Selasa, 18 Juni 2013

PENGARUH BASIS SALEP TERHADAP FORMULASI SEDIAAN SALEP EKSTRAK DAUN KEMANGI ( Ocimum sanctum L.) PADA KULIT PUNGGUNG KELINCI YANG DIBUAT INFEKSI Staphylococcus aureus

PENGARUH BASIS SALEP TERHADAP FORMULASI SEDIAAN
SALEP EKSTRAK DAUN KEMANGI ( Ocimum sanctum L.) PADA
KULIT PUNGGUNG KELINCI YANG DIBUAT
INFEKSI Staphylococcus aureus
Olivia H. Naibaho, Paulina V. Y. Yamlean, Weny Wiyono
Program Studi Farmasi, FMIPA UNSRAT Manado
ABSTRACT
The basil plant (Ocimum sanctum L.) contains alkaloids, triterpenoids, flavonoids are able to
provide an antibacterial effect.The aims of this research were to study ointment base effect
against physical properties and antibacterial effect of basil leaf extract ointment on Rabbits
(Oryctolagus cuniculus) back skin infected with staphylococcus aureus.Extraction was done
by soxhlet extraction using ethanol 95% as solvent.Observation of healing time was done by
observing infectionhealingtime on rabbits back skin after anointment treatment, which based
onthe disappearance oferythema and pus. The result shows differences ointment base effected
on the physical properties of an ointment which include shape, color, pH, and dispersive
power, but had no effect on the smell and homogeneity of the preparation. Basil leaves
extract ointment with base type hydrocarbons provide healing infections more quickly,
followed by the type of water-soluble base, absorption, and washable base.
Keywords: Base ointment, basil (Ocimum sanctum L.), Staphylococcus aureus, rabbit
ABSTRAK
Tanaman Kemangi (Ocimum sanctum L.) memiliki kandungan alkaloid, triterpenoid,
flavonoid yang mampu memberikan efek antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh tipe basis terhadap sifat fisik dan daya antibakteri salep ekstrak daun
Kemangi pada kulit punggung kelinci (Oryctolagus cuniculus) yang terinfeksi
Staphylococcus aureus. Ekstraksi dilakukan dengan cara soxhlet dengan menggunakan
pelarut etanol 95%. Pengamatan waktu penyembuhan dilakukan dengan cara mengamati
lamanya penyembuhan infeksi pada kulit punggung kelinci setelah pemberian salep ekstrak
daun Kemangi yang ditandai dengan hilangnya eritema dan nanah. Hasil penelitian
menunjukkan perbedaan tipe basis berpengaruh terhadap sifat fisik salep yang meliputi
bentuk, warna, pH, dan daya sebar, namun tidak berpengaruh pada bau dan homogenitas
sediaan. Salep ekstrak daun Kemangi dengan tipe basis hidrokarbon memberikan efek
penyembuhan infeksi yang lebih cepat, diikuti dengan tipe basis larut air, absorpsi dan tercuci
air.
Kata kunci : Basis salep, Kemangi (Ocimum sanctum L.), Staphylococcus aureus, kelinci PHARMACON Jurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 2 No. 02 Mei 2013 ISSN 2302 - 2493
28
PENDAHULUAN
Pemakaian tanaman obat sebagai
upaya penanggulangan masalah kesehatan
telah banyak diterapkan masyarakat di
tengah-tengah kemajuan teknologi dan
ilmu pengetahuan saat ini. Terlebih lagi
keadaan perekonomian Indonesia saat ini
yang mengakibatkan harga obat-obatan
relatif mahal. Salah satu tanaman obat
yang sering digunakan oleh masyarakat
ialah Kemangi (Ocimum sanctum L.).
Kemangi digunakan masyarakat sebagai
sayur atau lalap. Selain sebagai lalapan,
Kemangi juga mempunyai khasiat
mengatasi bau mulut dan badan, badan
lesu serta panas dalam. Selain itu, tanaman
ini juga digunakan sebagai peluruh haid
dan peluruh ASI (Permadi, 2008).
Penelitian tentang khasiat daun
Kemangi sebagai antibakteri telah
dilakukan oleh Khalil (2013).Ekstrak
etanol daun kemangi memiliki aktivitas
antibakteri terhadap Staphylococcus
aureus dan Escherichia coli dengan
diameter zona hambat 21 mm pada
konsentrasi 200 mg/ml untuk bakteri
Escherichia coli dan 16 mm pada
konsentrasi 200 mg/ml untuk bakteri
Staphylococcus aureus.Berdasarkan
aktivitas antibakteri yang dimiliki daun
Kemangi, maka perlu dikembangkan suatu
sediaan farmasi untuk
meningkatkanpenggunaannya. Salah satu
sediaan farmasi yang dapat memudahkan
dalam penggunaannya ialah salep. Dipilih
sediaan salep karena merupakan sediaan
dengan konsistensi yang cocok untuk
terapi penyakit kulit yang disebabkan oleh
bakteri.
Salep terdiri dari bahan obat yang
terlarut ataupun terdispersi di dalam basis
atau basis salep sebagai pembawa zat aktif.
Basis salep yang digunakan dalam sebuah
formulasi obat harus bersifat inert dengan
kata lain tidak merusak ataupun
mengurangi efek terapi dari obat yang
dikandungnya (Anief, 2007). Berdasarkan
hal tersebut maka perlu diteliti lebih lanjut
pengaruh penggunaan basis salep terhadap
daya antibakteri sediaan salep ekstrak daun
Kemangi.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini akan dilakukan di
Laboratorium Politeknik Kesehatan
Manado, Laboratorium Farmasetika,
Laboratorium Mikrobiologi, dan
Laboratorium Biologi Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Sam Ratulangi Manado pada
bulan Desember 2012 hingga Maret 2013.
Alat yang digunakan dalam
penelitian ini ialah alat-alat gelas,
timbangan analitik, oven, blender, ayakan
65 mesh, rangkaian alat soxhlet,
evaporator, waterbath, mortir, sudip,
laminar air flow, autoklaf, jarum ose,
inkubator, gunting.
Bahan yang digunakaan dalam
penelitian ini adalah daun Kemangi, etanol
95%, vaselin album, minyak mineral,
adeps lanae, stearil alkohol, cera alba,
natrium lauril sulfat, propilen glikol, PEG
4000, PEG 400, aquades, pH stik
universal, H2SO4, BaCl2.2H2O, NaCl,
hewan uji kelinci, nutrient agar (NA) dan
bakteri uji Staphylococcus aureus.
Jenis penelitian adalah deskriptif
laboratorium untuk menguji dan
mengamati sifat fisik dan aktivitas
antibakteri sediaan salep ekstrak daun
kemangi dengan variasi tipe basis salep.
PEMBUATAN SALEP
Formula standar basis salep
menurut Agoes (2008) seperti pada
lampiran 1.
Salep ekstrak daun Kemangi yang
akan dibuat dalam penelitian ini memiliki
konsentrasi yang sama yaitu 10%
sebanyak 25 g untuk pemakaian 3 kali
dalam sehari selama 9 hari.
a. Salep ekstrak daun kemangi dengan basis
hidrokarbon
R/ Ekstrak daun kemangi 2,5 g
 Basis salep 22,5 g
 m.f. salep 25 g
b. Salep ekstrak daun kemangi dengan basis
absorpsi
R/ Ekstrak daun kemangi 2,5 g
 Basis salep 22,5 g
 m.f. salep 25 g PHARMACON Jurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 2 No. 02 Mei 2013 ISSN 2302 - 2493
29
c. Salep ekstrak daun kemangi dengan basis
tercuci air
R/ Ekstrak daun kemangi 2,5 g
 Basis salep 22,5 g
 m.f. salep 25 g
d. Salep ekstrak daun kemangi dengan basis
larut air
R/ Ekstrak daun kemangi 2,5 g
 Basis salep 22,5 g
 m.f. salep 25 g
EVALUASI SEDIAAN SALEP
EKSTRAK DAUN KEMANGI
a. Uji organoleptik
Pengujian organoleptik dilakukan
dengan mengamati sediaan salep dari
bentuk, bau, dan warna sediaan (Anief,
1997).
b. Uji pH salep
Sebanyak 0,5 g salep ektrak daun
Kemangi diencerkan dengan 5 ml
aquades, kemudian pH stik dicelupkan
selama 1 menit. Perubahan warna yang
terjadi pada pH stik menunjukkan nilai
pH dari salep.
c. Uji homogenitas
Sediaan salep pada bagian atas, tengah,
dan bawah diambil kemudian
diletakkan pada plat kaca lalu digosok
dan diraba.
d. Uji daya sebar
Sebanyak 0,5 gr salep diletakkan diatas
kaca bulat yang berdiameter 15 cm,
kaca lainnya diletakkan diatasnya dan
dibiarkan selama 1 menit. Diameter
sebar salep diukur. Setelahnya,
ditambahkan 100 gr beban tambahan
dan didiamkan selama 1 menit lalu
diukur diameter yang konstan (Astuti et
al., 2010)
PEMBUATAN SUSPENSI BAKTERI
Bakteri S.aureus dari biakan media
NA diambil sebanyak 1 ose dan
dimasukkan dalam tabung reaksi yang
berisi NaCl 0,9% secara aseptis, dikocok
hingga homogen kemudian disetarakan
kekeruhannya dengan larutan Mc. Farland.
PENGUJIAN EFEKTIVITAS PADA
KULIT PUNGGUNG KELINCI
Hewan uji yang digunakan dalam
penelitian ini adalah kelinci sebanyak 4
ekor dengan berat badan 1,5-2 kg,
diaklimatisasi selama 5 hari agar terbiasa
dengan lingkungan yang baru dan
ditempatkan pada kandang serta diberi
makanan yang cukup. Bulu kelinci dicukur
pada 3 lokasi di punggung kelinci dengan
jarak ±1 cm kemudian. suspensi bakteri S.
aureusdisuntikkan sebanyak 0,1 ml pada
masing-masing lokasi. Waktu
penyembuhan infeksi diamati berdasarkan
hilangnya eritema dan nanah setelah
pemberian ± 0,5 g sediaan salep ekstrak
daunKemangi. Pengolesan salep dilakukan
3 kali sehari.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengujian organoleptik yang
dilakukan dengan mengamati sediaan
salep berdasarkan bentuk, warna, dan bau
dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini.Uji
organoleptik sediaan salep ekstrak daun
Kemangi menunjukkan bahwa tipe basis
mempengaruhi bentuk dan warna dari
sediaan. Salep ekstrak daun Kemangi
dengan basis hidrokarbon menghasilkan
massa salep yang lebih lembek karena
mengandung parafin cair yang dapat
menurunkan viskositas sehingga
dihasilkan konsistensi yang lebih lembek.
sedangkan untuk formulasi salep basis
larut air tidak mengandung bahan
berlemak yang menyebabkan konsinstensi
dari salep yang dihasilkan relatif lebih
kaku dibandingkan dengan salep ekstrak
daun kemangi yang menggunkan 3 tipe
basis lainnya. Salep ekstrak daun kemangi
juga memilki warna yang berbeda-beda
tergantung dari jenis basis yang
digunakan.
Uji pH yang dilakukan pada tiap
sediaan salep ekstrak daun Kemangi
diperoleh nilai pH yang berbeda-beda
untuk tiap sediaan.Hasil pengujian pH
dapat dilihat pada tabel 2.Pengukuran pH
dilakukan dengan menggunakan pH stik
universal yang dilakukan dengan
mencocokkan warna yang diperoleh
dengan tabel warna yang ada. Salep ektrak
daun Kemangi dengan variasi tipe basis
memiliki pH yang sesuai dengan kriteria PHARMACON Jurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 2 No. 02 Mei 2013 ISSN 2302 - 2493
30
pH kulit yaitu 4,5 – 6,5 sehingga aman
untuk digunakan, karena pH yang terlalu
asam dapat mengiritasi kulit sedangkan pH
yang terlalu basa dapat membuat kulit
bersisik.
Tabel 1. Hasil Uji pH
Jenis salep Nilai
pH
Hidrokarbon 5 - 6
Absorpsi 4 – 5
Tercuci Air 5
Larut Air 4 - 5
Uji homogenitas yang dilakukan
memberikan hasil yang homogen untuk
tiap sediaan, dilihat berdasarkan tidak
adanya gumpalan maupun butiran kasar
pada sediaan salep ektrak daun
Kemangi.Sediaan salep yang homogen
mengindikasikan bahwa ketercampuran
dari bahan-bahan salep serta ekstrak daun
kemangi yang digunakan baik sehingga
tidak didapati gumpalan ataupun butiran
kasar pada sediaan.Suatu sediaan salep
harus homogen dan rata agar tidak
menimbulkan iritasi dan terdistribusi
merata ketika digunakan.
Tabel 2. Hasil Uji Homogenitas
Jenis Salep Homogenitas
Hidrokarbon Tidak menggumpal,
Homogen
Absorpsi Tidak menggumpal,
Homogen
Tercuci Air Tidak menggumpal,
Homogen
Larut Air Tidak menggumpal,
Homogen
Pengujian daya sebar untuk tiap
sediaan dengan variasi tipe basis dilakukan
untuk melihat kemampuan sediaan
menyebar pada kulit, dimana suatu basis
salep sebaiknya memiliki daya sebar yang
baik untuk menjamin pemberian bahan
obat yang memuaskan.Perbedaan daya
sebar sangat berpengaruh pada kecepatan
difusi zat aktif dalam melewati
membran.Semakin luas membran tempat
sediaan menyebar maka koefisien difusi
makin besar yang mengakibatkan difusi
obat pun semakin meningkat, sehingga
semakin besar daya sebar suatu sediaan
maka makin baik (Hasyim et al.,
2012).Hasil pengukuran daya sebar dapat
diligat pada tabel 4.Perbedaan daya sebar
antara tiap jenis basis yang digunakan
terjadi karena konsistensi dari tiap basis
salep yang digunakan.Basis salep
hidrokarbon yang mengandung minyak
memiliki konsistensi lebih lembek
sehingga daya sebar yang dihasilkan lebih
besar dibandingkan dengan jenis basis
lainnya.
Tabel 5. Hasil Uji Daya Sebar
Jenis Salep Daya Sebar (cm)
Hidrokarbon 4,2
Absorpsi 4,0
Tercuci Air 3,6
Larut Air 3,0
Kepekaan bakteri terhadap salep
ekstak daun Kemangi dapat diamati dari
hilangnya eritema maupun nanah yang
timbul.Hasil pengamatan penyembuhan
eritema dan nanah pada kulit kelinci yang
dilakukan selama 9 hari dapat dilihat pada
lampiran 2.
Daun kemangi memiliki sifat
antibakteri disebabkan karena adanya
kandungan alkaloid, flavonoid, terpenoid,
dan saponin yang memiliki efek
antibakteri.Pada umumnya absorpsi obat
pada sediaan salep (absorpsi perkutan)
tidak hanya tergantung pada sifat fisika
kimia dari bahan obat saja tetapi juga
tergantung pada sifat pembawa dan juga
kondisi kulit.Absorpsi perkutan suatu obat
dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu
konsentrasi obat, luas membran tempat
sediaan menyebar, derajat kelarutan bahan
obat baik dalam minyak maupun air, efek
hidrasi kulit, waktu obat menempel pada
kulit (Ansel, 1989).
Berdasarkan hasil pengujian
efektivitas salep ektrak daun Kemangi
pada kulit kelinci yang diinfeksi
Staphylococcus aureus diperoleh hasil PHARMACON Jurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 2 No. 02 Mei 2013 ISSN 2302 - 2493
31
bahwa sediaan salep dengan basis
hidrokarbon lebih cepat dalam proses
penyembuhan infeksi yang ditandai
dengan hilangnya nanah dan eritema pada
punggung kelinci dibandingkan dengan
ketiga jenis basis lainnya. Salep ekstrak
daun Kemangi dengan basis hidrokarbon
memiliki pengukuran daya sebar yang
lebih besar dibandingkan dengan basis
lainnya.Daya sebar suatu sediaan
menunjukkan kemampuan sediaan tersebut
untuk menyebar pada kulit. Semakin luas
permukaan kulit tempat sediaan menyebar
maka absorpsi dari bahan obat yang
terkandung akan meningkat.
Efek hidrasi kulit juga mempunyai
pengaruh terhadap absorpsi obat pada
kulit.Efek hidrasi pada stratum korneum
akan membuka struktur lapisan tanduk
yang kompak dan juga benang-benang
keratin dari stratum korneum akan
mengembang sehingga kulit menjadi lebih
permeabel (Khielhorn, 2006). Salep
ekstrak daun Kemangi dengan basis
hidrokarbon dapat meningkatkan efek
hidrasi pada kulit.Pembawa yang bersifat
lemak merupakan penutup yang oklusif
sehingga dapat menghidrasi kulit
(Lachman, 1994).Dengan kemampuan
basis salep hidrokarbon dalam efek hidrasi
kulit maka dapat meningkatkan absorpsi
bahan obat pada sediaan salep ekstrak
daun Kemangi.Salep ekstrak daun
Kemangi yang menggunakan basis larut
air yang terdiri dari fase air dan tidak
mengandung bahan berlemak dapat
meningkatkan hidrasi dari stratum
korneum dan meningkatkan penetrasi dari
ekstrak daun Kemangi. Basis absorpsi
merupakan salep berlemak yang memiliki
sifat menyerupai basis hidrokarbon, akan
tetapi tidak memiliki derajat penutupan
pada kulit sebaik basis hidrokarbon
sehingga absorpsi obat tidak begitu cepat.
Basis tercuci air mengandung fase air dan
fase minyak sehingga proses hidrasi yang
ditimbulkan tidak sebaik basis larut air
yang tidak mengandung bahan berlemak
dan meskipun mengandung bahan
berlemak, basis ini tidak mempunyai
derajat penutupan seperti yang diberikan
oleh basis hidrokarbon dan absorpsi
sehingga absorpsi obat tidak begitu cepat.
Waktu kontak sediaan dengan
permukaan kulit juga berpengaruh pada
absorpsi obat melalui kulit.Semakin besar
waktu kontak obat pada kulit maka
konsentrasi obat yang diabsorpsi oleh kulit
juga meningkat.Basis hidrokarbon dan
absorpsi memiliki waktu kontak yang lebih
lama dibandingkan dengan lainnya karena
sifat dari basis hidrokarbon dan absorpsi
sebagai penutup yang baik pada kulit,
sedangkan basis tercuci air dan larut air
merupakan basis yang mudah dicuci
maupun larut dalam air sehingga waktu
kontak dengan permukaan kuli relatif lebih
cepat.
KESIMPULAN
1. Perbedaan tipe basis salep yang
digunakan pada formulasi salep ekstrak
daun Kemangi berpengaruh pada sifat
fisik sediaan yang dihasilkan. Bentuk,
warna, pH, dan daya sebar dari sediaan
salep berbeda-beda untuk tiap jenis
basis yang digunakan, tetapi bau dan
homogenitas sediaan yang dihasilkan
sama.
2. Tipe basis berpengaruh terhadap daya
antibakteri salep ekstrak daun Kemangi.
Basis hidrokarbon menunjukkan daya
antibakteri lebih besar dibandingkan
basis lainnya, ditandai dengan
penyembuhan infeksi pada kulit kelinci
yang lebih cepat.
SARAN
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
untuk mengetahui konsentrasi terbaik
yang memberikan efek antibakteri
maksimal dari ekstrak daun Kemangi.
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
untuk mengetahui jenis sediaan farmasi
yang paling tepat untuk ekstrak daun
Kemangi sebagai agen antibakteri.
DAFTAR PUSTAKA
Agoes, G. 2008. Pengembangan Sediaan
Farmasi. ITB-Press, Bandung. PHARMACON Jurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 2 No. 02 Mei 2013 ISSN 2302 - 2493
32
Anief, M. 1997. Ilmu Meracik Obat. Gajah
Mada University Press,
Yogyakarta.
Anief, M. 2007. Farmasetika. Gadjah
Mada University Press,
Yogyakarta.
Ansel, H. C. 1989. Pengantar Bentuk
Sediaan Farmasi. Edisi ke-4.
Terjemahan Farida Ibrahim. UIPress, Jakarta.
Astuti I. Y., D. Hartanti, dan A. Aminiati.
2010. Peningkatan Aktivitas
Antijamur Candida albicans Salep
Minyak Atsiri Daun Sirih (Piper
bettle LINN.) melalui
Pembentukan Kompleks Inklusi
dengan β-siklodekstrin.Majalah
Obat Tradisional. 15: 94-99
Hasyim, N., K. L. Pare, I. Junaid, A.
Kurniati. 2012. Formulasi dan Uji
Efektivitas Gel Luka Bakar Ekstrak
Daun Cocor Bebek (Kalanchoe
pinnata L.) pada Kelinci
(Oryctolagus cuniculus). Majalah
Farmasi dan Farmakologi. 16(2):
89-94.
Khalil, A. 2013. Antimicrobial Activity of
Ethanolic Extracts of Ocimum
basilicum leaf from Saudi Arabia.
Biotechnology.
Kielhorn, J., S. M. Kollmub, I.
Mangelsdorf. 2006. Dermal
Absorption. Environmental Health
Criteria. 235.
Lachman, L., A. H. Lieberman, dan J. L.
Kanig. 1994. Teori dan Praktek
Farmasi Industri. Terjemahan Siti
Suyatmi. UI-Press, Jakarta.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Formula basis salep
Bahan Tipe Basis
Hidrokarbon Absorpsi Tercuci Air Larut Air
Vaselin album 31,5 g 30,1 g 8,75 g -
Minyak mineral 3,5 g - - -
Adeps lanae - 1,05 g - -
Stearil alkohol - 1,05 g 8,75 g -
Cera alba - 2,8 g - -
Natrium lauryl
sulfat - - 0,35 g -
Propilen glikol - - 4,2 g -
PEG 4000 - - - 14 g
PEG 400 - - - 21 g
Aquadest - - 12,95 g -
 m.f. salep 35 g m.f. salep 35 g m.f. salep 35 g m.f. salep 35 g PHARMACON Jurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 2 No. 02 Mei 2013 ISSN 2302 - 2493
33
Lampiran 2. Hasil Pengamatan penyembuhan Infeksi
Basis Salep Ulangan
Pengamatan Infeksi Staphylococcus aureus
12 24 48 72 96 120 144 168 192 216
Hidrokarbon
1 e n n n nh nh s s s s
2 e n n n nh nh s s s s
3 e n n n nh nh s s s s
Absorpsi
1 e n n n n n nh k s s
2 e n n n n n nh k s s
3 e n n n n n nh k s s
Tercuci air
1 e n n n n n nh k s s
2 e n n n n nh nh k s s
3 e n n n n n nh k s s
Larut air
1 e n n n nh k k s s s
2 e n n n nh k k s s s
3 e n n n nh k k s s s
Ket: e : Eritema n : Nanah nh : Nanah hilang k : Kering s : Sembuh Filename: 5
Directory: C:\Documents and Settings\User\My Documents
Template: C:\Documents and Settings\User\Application
Data\Microsoft\Templates\Normal.dotm
Title:
Subject:
Author: Toshiba
Keywords:
Comments:
Creation Date: 4/28/2013 10:01:00 PM
Change Number: 44
Last Saved On: 5/3/2013 11:27:00 AM
Last Saved By: User
Total Editing Time: 233 Minutes
Last Printed On: 5/3/2013 11:27:00 AM
As of Last Complete Printing
 Number of Pages: 7
 Number of Words: 2,638 (approx.)
 Number of Characters: 15,039 (approx.)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar